Pinjam istilah dosen saya dulu. Keracunan harta.
Ketika semua demi harta semata.
Semua hal dalam hidup selalu dinilai dengan harta. Pagi hari membuka mata, hanya untuk harta. Mata terpejampun masih memikirkan harta. Tidak perlu sungkan menyakiti atau menipu sesama. Semua hanya demi harta. Itu sangat ekstrim.
Bagaimana kalau ini…?
Ketika bekerja hanya semata karena harta. Tidak lagi ada etika dan aturan agama. Toh hartalah yang bersama kita di dunia. Teman kerja dan setiap manusia cukup diukur dr harta mereka yg terlihat, dari kedudukan strata yang kesemuanya bermuara pada harta. Tua, muda, baik, buruk tak lagi ada. Hanya harta dan tak berharta yang di mata.
Jika beribadah hanya karena sesama, untung dipandang di dunia dan menjadi harta. Agama hanya untuk di muka, tidak butuh untuk di jiwa. Harta, itulah sesembahan baru kita.
Jika berjalan, berkendara, semua diukur dengan harta. Berjalan capek, berapa uang yg kita keluarkan untuk makan? Berkendara, berapa uang yang berkurang untuk BBM kita?
Bekerja, berkeluarga, semua diukur dengan harta. Hidup kita juga.
Lalu, jika hidup ini tak lebih berharga dari harta, maka kita tidak ada harganya.
Maka Tuhan, berilah hamba keteguhan hati, ketulusan iman, agar terhindar dari kemilau harta dunia yang menjerumuskan. Tolong Tuhan, aku takut keracunan harta. Aku hanya manusia biasa. Kabulkanlah doaku. Amin..
Salam
Masih bukan hamba terbaikMU