Kinan, si anak residen

Ceritaku tentang Kinan, peri kecilku. Usianya hampir 2 tahun, sedang lucu-lucunya, dan aku pun sedang senang-senangnya punya anak. Saat itu pula aku diterima di PPDS (Program Pendidikan Dokter Spesialis) Anak. Kisah kami pun dimulai.

Ada banyak pilihan buat emak-emak residen sepertiku, apakah mau membawa anak bersama kita, istilah kami real mama atau meninggalkan mereka di kota asal bersama keluarga (pseudo-mama, pseudo = semu) 😝😝 . Suami dan mertuaku tinggal di Jogja jadilah kubawaserta Kinan. Karena aku juga termasuk tipe emak-emak yang suka melow kalau jauh dari anak πŸ˜…

Residen semester 1 mempunyai jadwal yg luar biasa, padat merayap dengan kewajiban jaga malam yang menguras energi. Sebelum aku sekolah, semua urusan tetek-bengek Kinan aku yang atur sendiri. Dari dia mulai bangun tidur sampai tidur lagi semua dalam supervisiku 😎. Jadwalku sebagai dokter umum di RSUD cukup dapat ditolerir Kinan. Keadaan berubah 180Β° saat aku sekolah. Hampir 80% atau bahkan 100% pengasuhan Kinan aku limpahkan ke orang tua, suami dan pengasuh. Hingga Kinan pun tidak mau lagi tidur bersamaku. Sedih banget rasanya. Dia bingung dengan ritme kerjaku. Kadang aku tidur di rumah, kadang tidak. Kadang di dalam kota, kadang di luar kota. Ini goncangan pertama bagi Kinan dan aku. 

Di saat itu pula aku mutuskan menyapih Kinan. Prosesnya berlangsung sangat lancar, terlalu lancar malah. Hanya dalam waktu 2 malam aku bilang kepada Kinan seperti ini, “Kinan sekarang sudah 2 tahun ya, artinya sudah besar. Anak besar itu tidak nenen lagi”. Seperti itu, aku katakan berulang-ulang pada Kinan. Malam ketiga, Kinan sudah tidak minta nenen aku lagi. Bahkan malam-malam sesudahnyapun saat aku menawarinya nenen, dia tidak mau. Nangislah aku, huaa.. Belum ikhlas ternyata emaknya ini 😭😭 

Stase luar kota. Baik di tahap junior maupun senior, membuat goncangan-goncangan juga bagi kami. Butuh waktu untuk PDKT dengan Kinan sepulangnya dari stase luar kota. Foto di atas adalah saat aku stase junior di Klaten. Kinan akan mengunjungiku ke rumah sakit diantar ayahnya untuk bermain-main sebentar denganku. Kadang hanya untuk mengobati kangen disuapi makan olehku. Begitu juga saat stase di Banyumas, Muntilan, Wates, dan Sleman, Kinan akan datang berkunjung. Lama-lama Kinan familiar dengan ritmeku. Dia sudah terbiasa menghadiri acara keluarga hanya ditemani suami atau keluargaku saja. Kinan akan menjawab Ibu di rumah sakit saat ditanya kenapa Ibu tidak ikut. 

Sekarang aku sudah semester 8, sudah hampir selesai masa studiku. Hubunganku dengan Kinan semakin baik seiring aku naik tahap dari junior ke madya dan saat ini senior. Tapiiii, hampir tiap hari aku berdebat dengan Kinan. Hasratku untuk mengambil alih urusan perKinanan sangat besar. Ini ibarat kata nafsu emak-emak pada diriku yang tertunda. Namun sudah 4 tahun Kinan diasuh tidak dengan gayaku. Pasti dia kaget karena tidak terbiasa dan terlanjur sudah terpola. Kami sering sekali berdebat dan tiap kali aku menghabiskan waktu dengan Kinan dia malah rewel, manjanya ga ketulungan, berprilaku yang hmmm, menguras simpanan kesabaranku yang sedikit ini.  Aku akhirnya tersadar bahwa Kinan adalah hasil dari sebuah proses yang tidak mulus seperti anak-anak pada umumnya. Aku juga kadang lupa bahwa dia bukan lagi anak 2 tahun saat terakhir ingatanku masih penuh tentangnya. Kinan sudah 5 tahun sekarang lengkap dengan pemikiran, pendapat dan kemauan yang seringkali membuatku terpana.

 Seperti kejadian kemarin malam. Aku menegurnya karena dia sangat rewel untuk urusan yang tidak jelas. Dia dengan entengnya bilang,” Ibu, Kinan itu rewel dan sering marah-marah karena Ibu sering tidak ada”. Makjleb banget rasanya. Aku tidak bisa berkata-kata. Aku hanya bilang maaf dan kupeluk dia. Setelah kupeluk dia ngeloyor pergi sambil berkata, “Kinan juga minta maaf ya Bu, sering marah-marah ke Ibu”.  πŸ˜­πŸ˜­ Lain hari dia memberiku bunga di dalam pot kecil bekas mainan playd** nya sambil bilang,” ini buat Ibu, biar semangat belajarnya”. Ah, manis sekali anaku.

Aku tidak mungkin merubah apa yang sudah membentuk Kinan kemarin. Tapi aku akan memperkaya jiwanya. Bahwa yang dia alami bukanlah hal buruk. Karena aku sedang mengajarinya sebuah perjuangan panjang. Bahwa bagi perempuan seperti ibunya itu tetap bisa meraih mimpi. Menjadi perempuan itu super lengkap usahanya. Mungkin dalam satu waktu fungsi sebagai emak-emak, fungsi sebagai istri, dan fungsi sebagai pribadi dilakukan bersamaan. Aku akan membuat Kinan bangga bukan karena punya ibu yang seorang spesialis anak. Terlalu dangkal itu. Tapi aku akan membuat Kinan bangga mempunyai ibu yang berhasil menggapai mimpi-mimpinya. Jadi Kinan, bermimpilah setinggi-tingginya dan wujudkanlah. Buat emak-emak yang lain, bersemangatlah.

Sun sayang,

Ibu Nina

Iklan

2 Komentar

Filed under ceritaku saja

Jadi Residen Anak

image

Ah.. Akhirnya bisa berbagi di tahun ke-2 masa residensiku.
Jadi residen anak. Inti ceritanyak seperti itu. Adalah hal kedua paling hebat yang terjadi dalam hidupku, setelah berkeluarga tentunya. Sensasinya, tantangannya, pengorbanannya, stressnya, smua luar biasa hebat. Tapi kepuasannya jauh lebih hebat lagi. Aku jadi tahu sampai sejauh mana titik ketahanan fisik dan emosionalku. Semua itu ditarik ke titik paliiiiiing jauh. Sejauh yang kamu bisa. Alhamdulillah ya, masih bisa ditarik, tidak putus ditengah jalan. Hahahaha.. Ini membuatku sangat, sangat bersyukur.
Hal hebat lainnya adalah bertemu dg orang-orang super hebat, para guru-guru kami. Bisa keren dari sisi keilmuan, prinsip, disiplin dengan beban kerja yang waw.. Itu super menurutku. Juga orang-orang hebat rekan residen. Tahulah kami sesama penempuh perjuangan ini, kalau tidak hebat mana bisa bertahan. Aku bukan tipe yang pandai bergaul, tapi dibalik keunikan kami masing-masing selalu ada hal hebat di sana.
Ga usah cerita lika-liku kami ya. Ada poin hebat yang menurutku perlu kami renungkan. Bahwa hal-hal hebat itu sering kali tidak serta membuat aku hebat pula dalam menundukkan diri, melafalkan doa, mengingat kebesaran Tuhan, atau senantiasa memanusiakan manusia. Aku belum hebat dalam hal itu. Tersenyum, berterima kasih. Mungkin sedikit berbagi bacaan buku favorit kami. Atau sekedar bicara, “hey, saya juga lelah..” Kita pun sama-sama manusia.

Poin renungan kedua. Menurutku, tidak ada profesi mulia. Semua profesi sama saja. Tergantung kita melakukannya dg cara mulia atau tidak. Mulia, berarti jujur, tidak curang, tidak menjatuhkan, tidak cari aman, dan seterusnya, seterusnya. Mulia dalam hati dan pikiran. Aku ingin bisa seperti itu. Otakku tidak begitu cerdas, tapi semoga hatiku masih cukup waras untuk teguh di jalan kebenaran. Aamiin, aamiin..
Cita-citaku  pun sederhana. Bisa kembali bekerja dan merawat keluarga. Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang, kabulkanlah doa hambaMu yang lugu ini. Aamiin..

Eniwey, jadi residen Anak itu menyenangkan. Jadi kalian harus mencobanya πŸ™‚

Tinggalkan komentar

Filed under ceritaku saja

Bukan saya tapi Anda, Dokter

Bukan saya, tapi Anda

Bukan saya, tapi Anda
Anda yang harus bersabar Dokter
Sabarlah dengan kami yang terlalu sedih untuk bersikap baik
Sabarlah dengan keputusasaan kami
Sabar dengan penolakan dan tidak pahamnya kami
Sabar, Dokter

Bukan saya, tapi Anda Dokter
Bukan saya yang harus kuat, tapi Anda
Anda yang harus kuat menghadapi beban pikiran ini
Kuat untuk tetap berpikir jernih dalam situasi genting
Bukan saya Dokter, tapi Anda

Bersemangatlah, bergembiralah
Itu nasehat favorit Anda kepada saya, dan saya rasa lebih pantas buat Anda. Bukan saya

Bukan saya, tapi Anda Dok
Berdoalah, memohonlah kepada Tuhan
Tuhanlah tempat kita bergantung, tempat kita bernaung
Bukan saya, tapi Anda
Karena saya bukan Dokter

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Ibu minta ijin untuk waktumu

Lelap sekali tidurmu Nak. Ibu selalu suka memandangimu terlelap. Selalu suka. Hanya saja kali ini ibu agak serius. Ibu ingin benar-benar merekam wajah damaimu itu. Rambutmu, badanmu, igauanmu, smua Ibu rekam malam ini. Mungkin malam-malam setelah malam ini Ibu belum tentu bisa menemanimu tidur.
Nak, Ibu akan mulai belajar lagi. Jadi mungkin waktu Ibu tidak lagi banyak bersamamu. Tapi ingat satu hal, di manapun Ibu berada, Ibu sayang sekali kepadamu. Kinan anak yg pandai, jadi Ibu yakin pasti bisa paham.
Maafkan Ibu ya Nak. Ibu saat ini minta waktu untuk mengejar mimpi Ibu. Kinan juga besok kalau sudah besar harus semangat ya mengejar mimpi. Kita para wanita juga berhak berperan dalam hidup ini. Bahkan Ibu sih pede, jadi apapun kita para wanita, pasti jadi sesuatu yang hebat asal kita berpegang pada prinsip-prinsip kebenaran. Kinan, kita wajib bersyukur, Bapakmu itu sangat menghormati pilihan Ibu, sangat mendukung mimpi-mimpi Ibu. Besok kalau kamu cari suami yang mirip Bapak dalam hal ini ya? Nanti Ibu kasih bocorannya. Hehehe. . Walau begitu, Ibu tidak akan larut dalam kesibukan terus-menerus. Karena prioritas Ibu adalah kamu dan Bapakmu, dan adek kamu kelak. Setelah selesai, Ibu tidak akan praktek di banyak tempat dan tidak praktek di rumah. Ok?? Ibu minta ijin waktumu ya Nak?
Kinan tidak usah khawatir, kita masih bisa nyanyi bareng. Ibu kan dah belajar nyanyi buat Kinan, belajar masak juga. O iya, nanti Ibu tulisin resep masakan kesukaanmu biar mba Tur atau Uti bisa masakin buat Kinan. Tapi jangan lupa minum yang banyak habis maem ya Nak. Jangan lompat-lompat habis maem. Trus Kinan harus latian sabar ya. Kalo lagi gemes jangan keras-keras nyubitnya. Tapi Kinan anak hebat ko. Ibu bangga sekali kepadamu Nak. Dan Ibu sayang banget sama Kinan. Beneran. Muahh..

Ibumu

4 Komentar

Filed under Uncategorized

Tb Paru dan Aku

Tentang Tuberkulosis Paru dan aku. Pertemuan pertama.
Sesaat sebelum menyelesaikan pendidikan sarjana kedokteran, kami para calon dokter diharuskan membuat karya tulis ilmiah. Ini berlaku di kampusku. Entah bagaimana ceritanya, aku memilih mengangkat tema Tb paru. Pada saat itu aku tertarik karena Indonesia termasuk 3 besar negara dengan penderita Tb paru terbanyak. Saat itu tahun 2005, Indonesisia terbanyak ketiga setelah India dan Cina. Aku hanya mengukur hubungan antara Tb paru dan jenis kelamin, hubungan Tb paru dan usia. Dosen pembimbingku sangat baik & membantu. Terima kasih dr. PS, Sp. PD.
Pertemuan kedua
Stase Penyakit Dalam dalam masa koas, tahun 2007. Aku sangat mengagumi dosen paruku, dr. IR, Sp. P. Beliau sangat peduli dengan pasien dan sangat teliti dalam merawat pasien Tb. Kebetulan aku kebagian tugas referat dengan beliau. Jadi aku kembali berkutat dengan data-data pasien Tb. Dan tetap saja aku terheran-heran kenapa masalah Tb tidak kunjung berkurang.
Pertemuan ketiga, keempat, dan seterusnya
Di rumah sakit pemerintah Tahun 2009, sebagai dokter jaga, dokter poli, ka instal lab, anggota tim Tb DOTS RS. Masalah Tb tak kunjung reda. Kali ini aku tidak lagi heran kenapa. Penyakit yang komplek, pengobatan yang lama, tingkat pengetahuan yang tidak merata, tingkat keseriusan yang rendah, status ekonomi yang rendah, dan masih banyak faktor lainnya. Aku tidak heran. Aku hanya berdoa, aku bisa ambil pendidikan paru. Walau saat ini mungkin tidak ada kesempatan untukku. Tp hasrat itu masih tetap ada.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Kopiah Akung To

Akung To, suka sekali dengan kopiah hitamnya. Berkali-kali anaknya membelikan berbagai jenis topi, dari buatan luar negeri sampai topi kaki lima, tetap saja kopiah hitam yang lebih disuka.
Suatu hari, Akung To pergi ke ibukota dengan tetap memakai kopiahnya. Dari stasiun naik taksi ke suatu hotel berbintang. Si Akung ini lama ga dapet taksi, ternyata eh ternyata para sopir taksi ga mau ambil risiko bawa penumpang yang dari penampilannya ‘ndeso’ banget. Gimana ga ndeso, hem& celana yang jelas bukan merk terkenal, alas kaki yang lusuh. Dan itu lho, kopiahnya. Hadeeuh, kasian sekali Akung. Untung saja ada kawan si Akung yg menyelamatkannya. Mereka berdua naik taksi yang sama walo berbeda tujuan. Kawan yang baik ini mengantar Akung sampai ke tujuan. Kawan si Akung menasehati begini, “makanya Kang, klo ke Jakarta yg perlente dikit. Saya saja klo ga gitu ya pasti dpt perlakuan yang sama kaya sampeyan” (bahasa versi penulis ^^). Si Akung cuma geleng-geleng kepala.
Entah bagaimana cerita si Akung di hotel berbintang itu. Sepertinya sudah bisa kita tebak. Kita sudah sangat terbiasa memperlakukan orang hanya melihat dari penampilan luarnya. Bukan sekedar dont judge a book by its cover, tp bagaimana kita bisa jujur tampil apa adanya.
O iya, setelah kejadian ini Akung To tetap setia dengan kopiah hitamnya

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Ijin Sakit

Benci banget liat politisi/ koruptor/ penjahat yangΒ  menggunakan ijin sakit cm buat menghindari hukuman atau pertanggungjawaban dr kesalahannya. Heran aku. Mereka tuh ga pernah pada liat orang2 susah yang bener2 sakit tp ga mau dirawat cm karena ga punya biaya untuk berobat. Aku yakin mereka ga pernah liat rakyat mereka menahan sakit yang beneran cm krn kondisi mereka tdk mampu mendapatkan pengobatan yang layak. EEEh, mereka enak2an ke luar negeri alasan check up lah, di rawat di rumah sakit luar negeri lah. Wooyy, pas sehat kemana saja tuh otak.. Sehat dibawa buat maling dan njegal, sekalinya di suruh tanggungjawab bilang sakit. Dasar orang tidak tau malu..!!! Klo aku ketemu org2 kya gitu pasti ku kirim ke bangsal kelas 3 sekalian. Biar ngerasain gmn orang2 susah yang benar2 sakit.

Marah, marah, marah. Ptw$@jdkjfkajglkhkahgkj..!!!!!

Tinggalkan komentar

Filed under ceritaku saja