Ijin Sakit

Benci banget liat politisi/ koruptor/ penjahat yang  menggunakan ijin sakit cm buat menghindari hukuman atau pertanggungjawaban dr kesalahannya. Heran aku. Mereka tuh ga pernah pada liat orang2 susah yang bener2 sakit tp ga mau dirawat cm karena ga punya biaya untuk berobat. Aku yakin mereka ga pernah liat rakyat mereka menahan sakit yang beneran cm krn kondisi mereka tdk mampu mendapatkan pengobatan yang layak. EEEh, mereka enak2an ke luar negeri alasan check up lah, di rawat di rumah sakit luar negeri lah. Wooyy, pas sehat kemana saja tuh otak.. Sehat dibawa buat maling dan njegal, sekalinya di suruh tanggungjawab bilang sakit. Dasar orang tidak tau malu..!!! Klo aku ketemu org2 kya gitu pasti ku kirim ke bangsal kelas 3 sekalian. Biar ngerasain gmn orang2 susah yang benar2 sakit.

Marah, marah, marah. Ptw$@jdkjfkajglkhkahgkj..!!!!!

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under ceritaku saja

Hamil Pertama

Waaaaaaaaahh, lama biyanget ga cerita. Alasan klise, sibuk. Hehe..

Kabar baru yang menyenangkan. Alhamdulillah aku hamil, setelah menunggu 1,5 tahun. Sebagai pasangan yang tinggal berlainan kota, sungguh sulit mewujudkan impian mempunyai momongan. Dan ketika aku dan misua didiagnosa hanya mempunyai kemungkinan 2,5% untuk terjadi pembuahan alami, serasa ambruk duniaku. Sebagai orang medis, semua menjadi menakutkan. Tapi aku harus tetap tenang untuk menyemangati misua. Klo aku yang tau medis bingung, gmn nanti misua yang non medis. Padahal jujur, aku binguuuuung banget saat itu.

Tentu saja aku dan misua tetap berusaha dan berdoa. Dan ketika aku sampai pada tahap pasrah, disitulah aku mendapat pertolongan Tuhan. Suatu saat ketika selesai salat, aku berkata dalam doa, ” Baik, Tuhan aku sudah pasrah. Apapun yang akan Engkau berikan padaku, pasti itu yang terbaik untukku”. Tidak ada beban, tidak sedih juga. Hanya pasrah saja.

Dan ya, aku termasuk dalam golongan 2,5% kemungkinan terjadi pembuahan alami dg kondisi kami. Aku hamil. Sangat mengejutkan dan membahagiakan. Aku sangat bersyukur, walau terkadang masih terkaget-kaget dgn perubahan yg terjadi. Mual, muntah, pusing dan sebagainya. Hal biasa yang dialami ibu hamil. Pekerjaan terbengkalai, gampang capek, dan seterusnya. Hehe.. Satu yg sering aku lupa adalah kita manusia hanyalah makhluk, yang diciptakan. Dan Dia lah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Al Hadid:2)

Astaghfirullah..

Masih bukan hamba terbaikMU.

2 Komentar

Filed under ceritaku saja

Oeroeg

Oeroeg.

Film pertama yang aku tonton, di televisi. Saat itu aku mungkin masih berusia 10-11 tahun. Dengan film Si Pitung, film itu sangat membekas dalam ingatanku.

Aku menonton film Oeroeg di TVRI, satu2nya stasiun tv pada saat itu. Di depan tv aku dan ibu menonton beralaskan kasur. Ingat betul saat itu. Aku sangat terpesona dengan film Oeroeg dan juga film Si Pitung. Bener2 suka. Walau saat itu aku mungkin masih kurang pemahaman tentang film. Tapi dari sanalah aku mulai menyukai film.

Bercerita tentang persahabatan anak tuan tanah Belanda dengan anak mandor Indonesia. Persahabatan yang tulus tanpa memandang perbedaan. Dan ketika mereka dipaksa bertemu kembali sebagai dua pihak yang berperang. Hmm, pelajaran menghargai perbedaan yang bagus pada masa kecilku dulu.

Ah, ternyata sekarang aku baru tahu bahwa novel itu diangkat dari sebuah novel karya Hella Haasse dan pertama kali terbit tahu 1948, dan difilmkan tahun 1993. Terima kasih Google.

Dan, saatnya berburu buku Oeroeg. Gramediaaaa, aku dataaaaaaaaanngg…

\^^/


2 Komentar

Filed under buku

Keracunan Harta

Pinjam istilah dosen saya dulu. Keracunan harta.

Ketika semua demi harta semata.

Semua hal dalam hidup selalu dinilai dengan harta. Pagi hari membuka mata, hanya untuk harta. Mata terpejampun masih memikirkan harta. Tidak perlu sungkan menyakiti atau menipu sesama. Semua hanya demi harta. Itu sangat ekstrim.

Bagaimana kalau ini…?

Ketika bekerja hanya semata karena harta. Tidak lagi ada etika dan aturan agama. Toh hartalah yang bersama kita di dunia. Teman kerja dan setiap manusia cukup diukur dr harta mereka yg terlihat, dari kedudukan strata yang kesemuanya bermuara pada harta. Tua, muda, baik, buruk tak lagi ada. Hanya harta dan tak berharta yang di mata.

Jika beribadah hanya karena sesama, untung dipandang di dunia dan menjadi harta. Agama hanya untuk di muka, tidak butuh untuk di jiwa.  Harta, itulah sesembahan baru kita.

Jika berjalan, berkendara, semua diukur dengan harta. Berjalan capek, berapa uang yg kita keluarkan untuk makan? Berkendara, berapa uang yang berkurang untuk BBM kita?

Bekerja, berkeluarga, semua diukur dengan harta. Hidup kita juga.

Lalu, jika hidup ini tak lebih berharga dari harta, maka kita tidak ada harganya.

Maka Tuhan, berilah hamba keteguhan hati, ketulusan iman, agar terhindar dari kemilau harta dunia  yang menjerumuskan. Tolong Tuhan, aku takut keracunan harta. Aku hanya manusia biasa. Kabulkanlah doaku. Amin..

Salam

Masih bukan hamba terbaikMU

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Uncategorized

Diklat Prajabatan

identitas

Baru saja selesai mengikuti Diklat Prajabatan.

Enam belas hari mengikuti materi dan latihan di Gedung Diklat Kabupaten Banyumas, dan diasramakan. Apa si Diklat Prajabatan?? Sebelum diangkat menjadi PNS, kami para CPNS wajib mengikuti Diklat ini. Jika lulus Diklat, sehat jasmani rohani dan memenuhi syarat, CPNS br bisa diangkat menjadi PNS.

Ok, lalu apa ceritamu ttg Diklat ini Din?

Suasana baru, orang2 baru, dimana aku sedikit kesulitan menyesuaikan pada awalnya. Tapi seiring berjalannya waktu, akhirnya bisa menikmati juga. Di awal masa kegiatan, aq kangen banget jaga IGD. Yah, bagaimana ga kangen, biasa jadwal tidur ga teratur menyesuaikan jaga, di asrama Diklat semua menjadi teratur. Biasanya ketemu orang2 sakit dg semua aspek medis yg harus aku kaji, di asrama  Diklat aku bertemu orang2 sehat smua dg segala karakternya. Rutinitas pekerjaan yg kadang membosankan menjadi hal yang sangat kurindukan.

Namun di Diklat ini aku menemukan pemahaman baru. Konsep PNS yg masih mengambang kini menjadi jelas. PNS ternyata membawa banyak konsekwensi, tidak sesederhana yg aku pikirkan. Pada awalnya aku ingin masuk PNS agar bisa ttp jaga IGD di RS pemerintah. Ternyata setelah masuk PNS, tidak cuma jaga IGD saja, tp aku jg mendapat banyak tanggungjawab pekerjaan. Sesuatu hal  yg banyak menyita energi dan pikiran, yang memaksaku belajar hal baru. Aku bahkan awalnya tidak tahu hak dan kewajiban sebagai PNS, apa itu pangkat dan golongan, dan segala thethek-bengek menjadi PNS.

Dari Diklat Prajabatan itulah aku belajar. Hak dan kewajiban, banyak hal yang menyertai status PNS ku. Dan hal yang paling utama adalah, bahwa masih banyak PNS baik yang bekerja dengan tulus dan jujur. Bahwa tidak semua PNS itu korup dan memalukan. Semua kembali ke individu masing2, bukan kesalahan institusi. Melihat teman2 di Diklat Prajabatan yg penuh semangat dan dedikasi membuat aku tersadar. Kami adalah generasi pengganti yang mempunyai harapan besar terhadap pembaharuan. Menyadur nasehat Bpk Kepala Diklat, ” Aja golet longan, tapi nggawea meja, mesti ana longane

Aku beruntung mendapat pekerjaan yang selalu berhubungan dengan masyarakat. Yang akan selalu dituntut kinerja baikku, yang mungkin akan dikomplen dan disalahkan. Hal tersebut menjadi kontrol dalam pekerjaanku. Dan aku tahu banyak kebaikan jika aku tetap bekerja di sana, mendapatkan makanan fisik dan rohaniku.  Walau pasti banyak sikap pesimis terhadap kami, dan kadang aku pun jg pesimis, tapi bekerja dengan baik dan benar adalah kuncinya.

Bismillah..



3 Komentar

Filed under ceritaku saja

Panggil Namaku Saja

Panggil saja dengan namaku.

Aku lebih suka dipanggil dengan namaku, tanpa embel-embel  apapun. Tanpa embel-embel jabatan, kedudukan dan juga profesi. Karena aku pikir itulah gunanya nama. Menandai kita, menghargai kita dan pastinya sebuah doa dr orang tua. Jadi, aku lebih suka dipanggil dengan namaku saja.

Panggil saja aku Din; Dina; Nina; Alfina; Mba Din; Mba Dina; Bu Din; Bu Dina, itu namaku. Panggil saja dengan namaku. Aku masih belum terbiasa dan merasa selalu tidak terbiasa jika dipanggil bu Dokter. Aku pikir namaku lebih indah diucapkan dari kata ‘bu dokter’. Hahahaha…. Selain itu juga ada doa dari orangtua dalam namaku. Jadi, jika orang memanggil dengan namaku berarti mereka jg mendoakanku. Iya kan..?

Aku lebih suka dipanggil dengan namaku, bukan profesiku. Nama adalah bagian dari identitas pribadi, membawa karakter yang membedakannya dengan yang lain. Bagiku, profesi adalah profesi. Pekerjaanku, bagian hidupku yang membuatku selalu tertarik dan berjuang. Profesi adalah bagian hidupku, tapi kalau boleh memilih, tolong panggil saja aku dengan namaku. Aku adalah Din Alfina, yang kebetulan bekerja sebagai dokter.

Namaku Din Alfina, panggil saja aku dengan namaku..

6 Komentar

Filed under ceritaku saja

MALU

Malu kita pada dunia yang telah menyediakan semua

Kita pun hanya bisa merusaknya

Malu kita pada Pencipta diri

Kita  lumuri dengan kebohongan-kebohongan nurani

Malu tentu kita pada sesama

Tanpa berbagi apalagi menghormati

Malu kah kita pada negara?

Menuntut semua dan tak mau berusaha

Masih malukah dengan orangtua

Bila bertindak tak lagi bijak?

Malu apa lg yang tersisia

Bila kehormatan diri pun tak lg ada

Malu dan malu aku pada diri sendiri

Berangan dan bersuara saja tanpa tindakan nyata

Apa kita masih punya malu?

Apa aku masih punya malu?



Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under ceritaku saja

Masih Punya Mimpi

Lagi baca buku Doctors without borders. Dan seperti biasa, tertunda menyelesaikannya.

Aku tertarik dengan buku itu, menceritakan orang-orang baik yang meluangkan waktunya untuk misi kemanusiaan di negara-negara yang berkonflik atau terkena bencana alam. Luar biasa orang-orang seperti mereka. Sanggup melepaskan sedikit hidupnya dan mengikuti panggilan hati yang ketika dijalankan tentu saja tidak mudah. Tapi berani mengikuti panggilan hati seperti mereka sudah sangat luar biasa menurutku.

Aku jadi teringat salah satu kenangan ketika masih duduk di bangku SMU. Waktu itu pelajaran Bahasa Indonesia. Karena hari kemarinnya aku ijin tdk mengikuti jam pelajaran Bahasa Indonesia, aku jd tidak tau jika ternyata ada tugas mengarang dari guru. Sebenarnya waktu itu aku malas dan pingin mudik jadi pura2 ada acara kelurga biar bisa kabur. Hehe.. Eh, ga taunya aku ditunjuk supaya maju ke depan kelas membacakan tugas yang kemarin. Boro-boro ngerjain, tau ada tugas aja baru saat itu. Alhasil aku maju ke depan kelas dengan membawa buku tugasku yang masih kosong. Dan aku pun bercerita.

Aku punya cita-cita jadi jadi dokter, masuk fk universitas negeri. Apapun yang terjadi harus universitas negeri biar ngirit biaya. Kalau sudah lulus aku mau ikut misi kemanusiaan di Afrika. Itulah cerita yang pertama kali terlintas dalam kepalaku, jadi itulah yang aku ceritakan.

Baca buku Doctors without borders itu membuatku ingat apa yang aku ucapkan di depan kelas sewaktu masih SMU. Bukan sebuah basa-basi atau khayalan. Tapi itulah mimpiku. Saat ini aku masih terlalu takut. Banyak kewajiban yang harus aku penuhi. Tapi aku masih punya mimpi, dan suatu saat aku pasti menggapainya. Karena aku sudah menjadi dokter seperti cita-citaku. Tinggal melengkapinya dengan mengikuti misi kemanusiaan. Dan lengkaplah ceritaku di hadapan kelas. Amin..

Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under ceritaku saja

My Own Secret Garden

Blm juga selesai mengulang baca buku The Secret Garden nya Frances Hodgson Burnett. Buku bagus, bacaan dr kecil, nonton filmnya juga. Apa yang berbeda ketika mengulang membacanya di usia yang tidak lg kanak-kanak ini?

Buku yang bercerita tentang seorang anak kecil Inggris yg tidak dipedulikan orang tua, tumbuh di India, dan kembali ke Inggris untuk dirawat oleh Pamannya yang tinggal di Mansion karena ditinggal mati kedua orang tuanya. Mary Lennox, namanya.

Sedikit berbeda membaca ulang salah satu cerita favoritku di masa kanak-kanak. Bahwa kesadaran kita semua adalah sosok Mary Lennox-Mary Lennox dalam versi masing-masing. Contohnya aku, dari pada mencontohkan orang lain bisa berabe. Hehe..

Sebagai gadis kecil yang tidak menyenangkan, karena bungsu dari 5 bersaudara, aku tumbuh di tengah keluarga besar. Seperti Mary Lennox yang “tumbuh” dengan taman rahasianya itu, aku juga “tumbuh” dengan taman rahasiaku sendiri. Bedanya adalah, aku punya banyak taman rahasia yang membuatku “tumbuh”. Terpaksa tumbuh atau dengan sendirinya tumbuh. Hehehe..

Taman rahasiaku yang pertama adalah rumah. Rumah dimana aku dibesarkan dengan segala pernak-perniknya. Belajar bahwa kedua orang tuaku adalah pribadi yang sangat berbeda, belajar pula keempat saudaraku lebih berbeda lagi. Dan kami tumbuh bersama-sama, saling menyayangi. Itulah dasar dari pondasi pribadiku.

Taman-taman berikutnya adalah lingkungan sekolah dr SD sampai kuliah di lembaga pendidikan negeri. Dengan banyak sekali latar perbedaan masing-masing muridnya. Dan terakhir masa pendidikan profesiku. Aku yang tidak bisa bercerita dengan mudah ini terpaksa dihadapkan pada obyek berupa manusia. Jadi disitulah aku belajar berkomunikasi dengan intensif.

Sebuah pernikahan adalah tamanku yang berikutnya. Tidak saja bunga liar ato burung Kolibri yang kutemukan, seperti Mary Lennox. Aku menemukan banyak sekali pembelajaran, hal-hal yang menyenangkan, hal-hal yang bikin nangis ataupun marah, yang smuanya membuatku tumbuh, tumbuh, dan tumbuh lagi.

Itulah taman rahasiaku. Dan masih akan ada banyak lagi taman-taman yang kutemukan. Aku sudah tidak sabar. Smangatt!!

Aku bersyukur pada Sang Pencipta, bahwa aku masih diberi kesempatan untuk tumbuh. Dan semoga akan seperti itu. Amin..


Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under buku

Hidung Tersumbat

Memori masa kanak-kanak datang ketika kemarin jaga malam.

Hari itu ada pasien anak datang dengan kemasukan  serangga ke liang telinganya dan satu anak lagi kemasukkan daun ke lubang hidungnya.  Jangan tanya kenapa. Namanya juga anak-anak.

Ingatanku jadi kembali ke masa lalu. Waktu itu aku masih kelas TK. Aku ikut ibu yang sedang asyik ngobrol dengan Bu Dhe dan mbah Putri di serambi depan rumah mbah Putri. Mereka ngobrol sambil makan jeruk. Singkat cerita, satu biji jeruk berhasil aku masukkan ke lubang hidungku. Alasanku sebenarnya waktu itu iseng saja. Tapi ternyata hal itu bikin kepanikan luar biasa buat ibuku. Kami langsung menuju Puskesmas terdekat. Letakknya di kota Kecamatan, aku lupa kami naik apa menuju kesana.

Menunggu di Puskesmas bukan hal yang menyenangkan bagi seorang anak kecil. Apalagi mengetahui ibuku panik luar biasa. Jangan-jangan berbahaya. Menangis lah aku. Di tengah tangisanku, tiba-tiba muncul seorang ibu yang menggendong anaknya, sepantaran umurku waktu itu. Dan kondisi mereka hampir sama seperti kami. Hanya saja, biji yang dimasukkan anak itu adalah biji buah asam yang guedhe banget. Membikin lubang hidungnya mencuat keatas dan lebih lebar dari lubang hidung lainnya. Melihat hal itu aku langsung tertawa terpingkal-pingkal. Ternyata ada yang lebih besar dari biji jeruk yang kumasukkan. HA..HA..HA..HA..

Ketika giliranku tiba untuk diperiksa, Pak Dokter kebingungan mencari biji jeruknya. Ternyata tertelan ketika aku tertawa terpingkal-pingkal. tadi.

Aku tidak pernah menyalahkan pasien anak yang kasusnya seperti itu. Karena aku juga pernah mengalaminya. Hehehehe…


Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under ceritaku saja