Hujan
Hujan.. Selalu aku suka hujan. Hujan yg akan menyapu gerah diudara. Bahkan sedikit meninggalkan raga beku. Menyisakan tetes air ditiap mana dia menghampiri. Hujan yg akan membawa keteduhan tanpa banyak cahaya. Membawa suasana romantis. Aku selalu suka hujan. Walau sepatu yg basah akan sangat mengganggu. Akan sering membersihkan segala di tempat hujan memberi noda di tiap bagiannya. Sering kubuka mata lebar2 dan reflek kusigapkan. Ketika hujan membawa lebih banyak bahaya. Tetapi aku selalu suka hujan. Karena aku suka hujan. Itu saja
Jilbabku
Mau cerita dikit. Ga nyoba berdebat mslh perbedaan pendapat ttg bentuk atau ukuran jilbab. Aku rasa tiap orang punya pendapat sendiri2.
Aku mau cerita ttg jilbabku.
Aku mulai pake jilbab sejak kelas 2 SMP, jadi sekitar tahun 1996-an. Alhamdulillah bukan karena suruhan. Sbenarnya dulu alasannya cuma kepingin aja. Ga tau knp kepingin. Waktu itu 2 kakakku dah pake jilbab, dan 1 lg belum. Jangan bayangin spt sekarang kondisinya. Hampir di mana2 banyak perempuan pake jilbab. Dulu kami jd kaum minoritas. Diledekin dg julukan bu haji (alhamdulillah sbenere, aku jd didoain bs pergi haji. hehe..).
Di sekolah, waktu itu aku msh SMP ya.. Jg dikit yg pake jilbab. Ga ada diskriminasi sbenarnya. Ada sedikit kesulitan di pelajaran olahraga. Renang terutama. Ingat y, waktu itu blm ada tuh baju renang yg panjang. Jd ya terpaksanya aku memilih ga ikut olahraga renang. Padahal waktu itu aku br bisa meluncur, blm sampe bs renang. Hiks.. :’( Aku lupa waktu itu mengganti nilai renang dg apa ya? Kayaknya si mengerjakan tugas tambahan. Sampe sekarang aq blm bisa renang. Huwaaaa…. :’(
Dulu, pilihan jilbabnya jg ga kaya sekarang. Klo skrg kan mo modelnya spt apa, kainnya gimana, warna, aksesoris smua ada. Hampir di tiap toko baju pasti jual jilbab kan? Dulu ga gitu. Modelnya standar abis. Kain..? Panas dan tebel. Walhasil kaya pake kurungan tuh kepala. Dan ketombe pun bermunculan. Walo dah sering keramas. Ciput atau kain buat daleman jilbabnya jg sulit bgt nyarinya. Ada tu yg jual kaya slayer. kainnya tipis, enak sbenarnya di pake tapi, warnanya itu lho. Genjreng bo.. Merah, kuning, hijau, smuanya genjreng. Bisa dibayangin ga klo lg pake baju OSIS kan jilbabnya putih tuh. Warna2 daleman yg genjreng td menerawang bgt. Jdnya kuakalin aja. Aku bikin sendiri tuh daleman jilbab dr kain putih yg tipis.
Trus warna. Dikit bgt warna2nya, paling warna dasar gitu. Jadi sulit mainin warna baju. Jarang jg aksesoris yg dijual. Dulu cr peniti kecil aja sulit. Skrg mau cr aksesoris model apa jd dah banyak bgt. Mo bikin sendiri jg bahannya ada.
Tapi klo dilihat sekarang jadi miris juga. Sekarang jilbab itu jd mode. Saking banyaknya model jilbab, saking mudahnya cr jilbab, jd banyak yg menyepelekan. Sekarang banyak perempuan pake jilbab ga diniatin dr hati. Memang ga smuanya spt itu. Awalnya aku jg niatnya cuma skedar kepingin aja si. Mungkin pada lupa kali ya maksudnya pake jilbab apa. Lupa atau tidak tahu. Aku tidak pernah menyarankan teman/sahabat perempuanku utk pake jilbab. Prinsipku adalah, jilbab dipakai karena niat dr dalam hati. Percuma pake jilbab klo cm buat main2 aja. Lebih parah lg klo pake jilbab cuma buat kamuflase aja. Ngapain coba? Harus ada usaha untuk mencari tahu. Fikih, perbandingan pendapat ttg jilbab. Sehingga kita tau apa yg kita putuskan, kita gunaka. Aku jg msh harus banyak belajar ni.. Ayo, smangat belajar..!!
Indriyani
Namanya Indriyani.
Perawakan kecil seperti aku, mungkin berat badannya yg sedikit berbeda. Tidak sekurus aku. Kulitnya cenderung gelap dengan rambut hitamnya yg lurus. Pembawaannya ceria, bisa dikatakan cerewet. Hehe.. Situasi akan ramai jika ada Indri, begitu kami memanggilnya.
Indri teman 1 kelas waktu aku msh duduk di bangku SMP. Pada awalnya kami tidak begitu akrab, tapi lama kelamaan kami akrab. Karena ketika pulang kami kadang berjalan bersama. Jika pulang sore aku harus ke terminal dulu karena biasanya angkot sudah tdk lewat dpn sekolah lagi. Sementara rumah Indri setelah terminal. Jadi kami berjalan bersama.
Dalam perjalanan itulah aku menjadi akrab dengan Indri. Yang aku tangkap dr seorang Indri adalah pribadi yang sangat ceria. Baginya, hidup itu santai, tanpa beban dan harus selalu dinikmati, apapun yang terjadi. Akan sangat menyenangkan berada di sekitarnya. Arus keceriaan dan kebahagiaan terpancar kuat dari diri seorang Indri.
Selepas SMP, aku melanjutkan ke SMU luar kota. Sehingga komunikasi dan pertemuanku dengan Indri menjadi jarang, jarang sekali. Terakhir kali aku ketemu Indri aku lupa pas kapan. Aku hanya ingat dia memakai baju warna hitam dan terlihat tidak seceria seperti biasanya. Waktu itu aku pikir hal itu karena pengaruh warna baju yang dikenakannya. Ternyata aku salah.
Beberapa bulan kemudian aku mendengar kabar bahwa Indri sudah meninggal dunia. Sebenarnya sudah lama dia mengidap kanker payudara. Harta keluarganya sudah habis dijual untuk pengobatannya. Bahkan ketika aku datang untuk takziyah (jenazah Indri waktu itu sdh lama dikuburkan), rumah yg aku datangi adalah rumah kerabatnya. Rumah tersebut berada di belakang sebuah masjid. Dan tiap kali berangkat kerja, aku melewati masjid itu. Jadi kenangan tentang Indri akan selalu datang. Aku sangat menyesal knp aku terlambat mengetahuinya. Aku bahkan tdk bisa membantu apa2, kecuali doa. Aku menyesal, benar2 menyesal. Masjid itu seperti monumen penyesalanku.
Ketika Tangan dan Kaki Berkata
Bulan ini bulan Ramadhan.
Aq sedikit kehilangan ‘greget’ di Ramadhan kali ini. Banyak sekali perubahan yang terjadi padaku dan aq masih sedikit kesulitan menyesuaikan diri. Hal itu berimbas pada ibadahku di bulan Ramadhan kali ini.
Ramadhan kali ini ibadahku terasa sangat kurang dibanding Ramadhan2 yang lalu. Selalu masalah klise yang jadi alasan. Sibuk. Tapi sbenarnya itu hanya alasan saja. Ibadah2 yang biasanya rutin aku lakukan selama Ramadhan, tp tidak kulakukan saat ini hanya karena malas :’( Hingga suatu saat aq tersadar dan aq konsul ke salah satu sahabatku, jeng Ria. Diskusi berjalan sampai beberapa waktu hingga akhirnya kami memutuskan untuk menargetkan sesuatu di bulan Ramadhan kali ini. Aq sangat bersyukur masih dikelilingi sahabat2 yang sangat baik sehingga mampu membimbingku kembali ke jalan yang benar. Lup u jeng ![]()
Jujur saja, aq hampir melupakan keisimewaan bulan Ramadhan. Dan terlalu fokus pada hal2 yang lbh duniawi. Aq terlalu fokus pada keluarga, pekerjaan, pada target2 hidupku, pada rencana2 ke depan dan hal2 duniawi lainnya. Astaghfirullah.. Apa yang sudah aq lakukan kepada hidupku..?? Aq melupakan betapa istemewanya nilai ibadah di bulan ini. Betapa Allah mencurahkan rahmat secara besar2an kepada umatNYA di bulan Ramadhan. Aq juga melupakan kegembiraan yang selalu aq rasakan di bulan Ramadhan semenjak aq kanak2. Aq hampir melupakan hal itu.
Namun aq sangat bersyukur masih terselamatkan. Semua berkat orang2 terdekatku. Dan aq merasa sangat berterimakasih karenanya. Alhamdulillah banget. Jadi, untuk soundtrack ku bulan ini adalah ‘ Ketika Tangan dan Kaki Berkata’ nya Chrisye, gubahan dari Ayat Al Quran oleh Taufik Ismail. Lagu yang selalu membuatku takut dan merinding.
Akan datang hari, mulut dikunci
Kata tak ada lagi
Akan tiba masa, tak ada suara
Dari mulut kita
Berkata tangan kita tentang apa yang dilalkukannya
Berkata kaki kita kemana saja dia melangkahnya..
Tidak tau kita bila harinya
Tanggung jawab tiba…
Robbana
Tangan kami,
Kaki kami,
Mulut kami,
Mata hati kami,
Luruskanlah..
Kukuhkanlah..
Di jalan cahaya, Sempurna
Tidak tahu kita, bila harinya
Tanggung jawab tiba
Mohon karunia, kepada kami
HambaMU yang hina
Depan Belakang Sama Saja
Sedikit mengoreksi kelemahan diri sendiri.
Aku tidak begitu pintar dalam hal mengeluarkan pikiran atau unek2 secara lisan dlm waktu singkat. Pasti butuh waktu untuk mempertimbangkan baik-buruk efeknya. Seringnya si kelamaan mikirnya :’( Jadi kadang aku kurang begitu lugas dalam memberikan respon. (Kalimatnya ga sip ni..) Tapi intinya aq sulit untuk bicara blak-blakan. (Hehe, klo ini dah paham kan y?) Akibatnya ya sering timbul pertentangan2 dlm diriku berkaitan dengan situasi yang kuhadapi.Aku terlalu membawa ‘perasaan’ ketika akan mengeluarkan pikiran2ku. Perasaan sungkan, takut, ga enak sering muncul mendahului. Sehingga hal tersebut menghambat banget dalam komunikasiku dengan orang lain ![]()
Sebenarnya aku sudah lama menyadari kelemahanku. Sedang dlm proses perbaikan. Under construction lah.. Hambatanku dalam beriteraksi sosial ini lebih terasa berat ketika aku memulai sebuah relasi baru. Dulu, ketika masih jaman pedekate ma suami, aku jg mengali kesulitan spt ini. Aku kurang bisa berbahasa lisan dlm mengungkapkan pikiranku. Hasilnya ya timbul banyak kesalahpahaman. Tapi semakin lama aku dan suami (dulu msh calon) menemukan cara jitu menyelesaikan permasalahan kami. Caranya ya dengan menggunakan bahasa tulisan jika komunikasi kami tiba2 macet gara2 aku tidak bs mengungkapkan secara lisan. Tapi hal tersebut butuh waktu lama. Jadi pelan2 aku belajar untuk menggunakan bahasa lisan (bukan tulisan lg) dalam setiap komunikasi kami. Aku bersyukur memiliki suami penyabar
Sekarang, saat aku memasuki dunia kerja yang nyata, aku dihadapkan pada kelemahanku tersebut. Situasi yang baru memaksaku untuk butuh waktu lama dalam hal beradaptasi. Tapi aku harus cepat2 memperbaiki diri. Karena komunikasi yang tidak berjalan optimal akan merugikan banyak pihak. Dan seringnya komunikasi akan lebih lancar dengan bahasa lisan kan? Aku harus banyak introspeksi, banyak belajar, jadi harus SMANGAAAAAAAAAATT…!! ![]()
Kuasa Tuhan
Sedikit cerita tentang salah satu hariku.
Minggu pagi, jaga Igd.
Hari itu seperti hari biasa; datang ke IGD, periksa pasien, visite bangsal. Namun ada sedikit perbedaan karena hari itu aku mengalami KEJADIAN LUAAAAAAAAARR BIASA. Semua tentang kuasa Tuhan.
Datang pasien, wanita usia 30an, post melahirkan hari ke-20, dengan keluhan sedikit sesak. Hipertensi, takikardi (denyut jantung cepat). Paru2 bersih, Jantung takikardi tanpa bising jantung. ECG dan observasi di IGD, tetap stabil. Pasien asyik bercanda dengan perawat. Setelah memberikan terapi, aku tinggal sebentar utk visite ke bangsal. Namun tiba2 kondisi pasien memburuk. Luar biasa buruk.
Aku cek ulang smua. Adakah yang terlewati oleh pemeriksaanku? Tanda vital, keadaan umum dan kesadaran pasien semua turun. Aku tahu aku menghadapi kondisi kegawatdaruratan jantung. Ini tidak main2 rumitnya. IGD panik, semua panik. Tp mungkin aku yang paling panik. Keluarga pasien sudah histeris, pasien sudah tidak sadar dengan monitor jantung yg gambarannya dah amburadul. Aku harus mengamankan A(Airway)-B(Breathing)-C(Circulation) pasien. Tp yang bermasalah adalah Cnya. Berat sekali. Pertolongan pertama sudah masuk, kondisi pasien tetap tidak membaik juga. Jantung, jantung, jantung… Aku tau yang aku hadapi dan aku tidak berdaya. Otakku macet, aku tidak pd. Aku konsulkan ke senior. Tapi ada sedikit perbedaan pandangan. Aku bingung karena aku yang menghadapi pasiennya dan aku yang harus membuat keputusan. Keputusan yang salah adalah hal yang fatal. Aku dihadapkan pada pilihan yang sangat sulit. Menuruti saran senior atau mengambil keputusan sendiri. Keluarga pasien menjerit2 di belakangku dan perawat2 berdiri di depanku, menunggu instruksi selanjutnya. Saat itu aku hanya bisa berdiri terpaku, mencoba mengais2 ilmuku yang tak seberapa utk disatukan dengan data kondisi pasien. Dan aku tau aku berada pd titik kosong. Aku berdoa, aku memohon dan terus memohon kepada Tuhan. Bahwa aku tidak bisa apa2, i am nothing. Tuhan lah yang berkuasa.
Aku memutuskan utk bertindak berdasarkan pemikiranku sendiri, berbeda pendapat dengan senior. Dan tentu saja dengan semua risiko yang harus aku tanggung. Aku pasrah.
Keajaiban terjadi. Pasien mulai sadar dan tanda2 kehidupan kembali terlihat di tubuhnya. Aku hampir tidak percaya hal itu terjadi. Sampai ketika alat bantu nafas pasien dilepas dan dia mengucapkan kata2. Aku sangat, sangat, sangat bersyukur. Dalam situasi yang serba terbatas dan kondisi pasien yang sulit, aku masih bisa melihat tanda2 kebesaran Tuhan. Dan aku teringat dengan puji-pujian yang sering didendangkan di mushala,
“mboten wonten doyo lan mboten kiat.. mboten wonten doyo lan mboten kiat.. kejawi angsal pitulunge Allah, kejawi angsal pitulunge Allah…”
Mental Baja
Mental baja..??
Aku merasa tidak punya mental baja. Terlalu rapuh dan sensitif, jadi bikin stress. Lho ko malah curhat..?? Ga si, cuma pingin cerita dikit. Curhat jg ding, hehe..
Aku klo boleh memilih, lebih seneng visite ke bangsal kelas 3 dibandingkan dengan kelas 1 atau 2. Iya si, harusnya aq ga boleh pilih2 dalam hal memberikan pelayanan. Tapi ada beberapa hal yang bikin aku berpikiran demikian.
Bangsal kelas 3 jelas didominasi oleh pasien2 dari kalangan kurang beruntung. Mereka biasanya lebih enak dalam hal kasih terapi karena mereka percaya ke kita. Kata lainnya ga rewel
Dan insyaallah aku selalu berusaha tidak menyalahi kepercayaan mereka. Dosa kan ya..? Walau ada jg beberapa yang sulit diberi pengertian karena pendidikan mereka yang (biasanya) rendah. Walaupun tidak semuanya seperti itu si. Aku jd lebih enak menjalin hubungan dengan mereka dan lebih nyaman dalam memberikan terapi. Selain itu, mereka biasanya tidak arogan. Jadi aku bisa ketawa-ketiwi bareng mereka. Dan, aku mengharap ridlo Tuhan yang lbh banyak dari mereka. Tapi ada hal terasa sangat berat buat aku.
Melakukan visite bangsal kelas 3 membuatku stress. Karena wajah2 mereka yang kesakitan, menderita terpatri jelas di benakku. Dan jujur saja itu sangat menggangguku, bikin stress. Karena aku tidak mempunyai mental baja. Aku ini orang yang mudah menangis, terlalu sensitif lah. Gambarannya begini. Kita masuk ruangan yang mungkin kondisinya tidak eh, maksudnya kurang sebaik bangsal yang lain, berisi orang2 sakit yang kita tahu berasal dari kalangan kurang beruntung, dikelilingi keluarga yang tidak lebih baik dari si sakit. Ngenes banget lah pokoke.. Wajah2 mereka akan terpatri jelas. Dan mungkin tindakan kita hanya sedikit saja membantu mereka. Jadi aku stress. Bagi teman sejawat pasti bs memahami situasi yg aku gambarkan. Makanya, aku sangat senang bercanda dengan pasien2 di bangsal kelas 3. Tau kenapa? Karena jika mereka tersenyum aku akan lebih senang. Kenapa? karena wajah tersenyum mereka yang akan terpatri di benakku. Jadi akan sedikit mengurangi beban mentalku. Siasat yang bagus bukan? Dan mereka jg senang ko aku ajak bercanda. PD banget ya..
Baru saja suami memberiku nasehat yang bagus, aku jd lebih bisa memahami dan menerima kekuranganku itu. Makasih biyanget suamiku. Luv u..
Tentang enzim
Lama banget ni aq baca buku “The Miracle of Enzyme” nya Hiromi Sinya, MD. Gimana ga lama, aq beli bk ini 1 minggu sblm merit. Jadi ya bacanya kepotong2. Ni aja aq blm slese bacanya.
Buku ini ditulis oleh Guru besar Gastroenterologi keturunan Jepang yang praktek di US ma Jepang. Biasa melakukan endoskopi terus melakukan penelitian dengan survey pola makanan dari pasiennya. Trus dicari hubungan antara pola makanan dengan gambaran kolonoskopi dari pasien2nya tersebut. Menarik sekali. Banyak informasi terbaru tentang pola makan sehat. Jadi aq akan mempraktekan dan menularkannya ke orang lain. Smoga bermanfaat.
Mau beli buku apa lagi ya..?
Status : Married
Lama bgt ni ga nulis lg. Bulan kemarin bln yg sibuk. Orientasi cpns dan menikah membuat otakku sulit menulis. Mari qt bercerita kembali. Di tengah masa orientasi cpns, aq ijin menikah. Acara berlangsung di kediaman ortuku dan ortu suami. Setelah itu lgs masuk kerja. Jd aq mengalami shock jg ni dg banyak perubahan yg tjd.
Pertama, menjadi seorang istri. Aq mengalami sdkt kesulitan ketika memulainya. Perbedaan kebiasaan, background pendidikan, sifat, budaya dsb. Tp aq sangat b’syukur punya suami yg pengertian bgt. Dan aq teringat tausiyah pd pernikahanku oleh KH. Mustofa Bisri. Aq seneng bgt beliau bs hadir di pernikahanku.. Matur nuwun, Gus..
“Kenapa laki2 dan perempuan menikah?”, tanya Gus Mus. Padahal, menurut Al Quran perbedaan antara laki2 dan perempuan jauh lebih besar dari perbedaan antar bangsa, masih menurut penjelasan beliau. Disebutkan dlm Al Quran (aq lupa ayat berapa) perbedaan terbesar adalah antara laki2 dan perempuan, selanjutnya adalah antar bangsa2 dan antar suku2. Allah memerintahkan manusia untuk belajar perbedaan mulai dari perbedaan terbesar dulu, yaitu antara laki2 dan perempuan agar ketika hidup bermasyarakat dan berbangsa bisa lebih rukun dan damai. Perbedaan bukanlah hal yang harus ditakuti. Begitu nasehat beliau.
“Mudah atau tidak berbuat baik kepada suami/ istri?”, Gus Mus kembali bertanya.
“Mudah sekali, yang sulit adalah berbuat baik kepada suami/istri terus-menerus”, ungkap Gus Mus. Namun, perlu diingat bahwa perbuatan baik tidak ada artinya jika tidak dilakukan terus-menerus. Mmm. harus diingat2 terus ni..
Minggu2, mungkin tahun2 pertama pernikahan mungkin akan terasa sangat berat dalam hal beradaptasi. Tapi ingatanku harus dikembalikan kepada nasehat Gus Mus. Ya wajar lah berat, wong Al Quran aja sudah mengakui bahwa perbedaan terbesar adalah antara laki2 dan perempuan. Jadi wajar kalo berat, tp harus tetep smangat dong.. Inilah momen dalam hidupku yang membuatku untuk terus berkembang. Kedewasaan, pemikiran, kesabaran dan segala atribut dalam diriku akan berkembang. ( Smoga termasuk berat badanku, hehehe..).
Kedua, jadi pegawai negeri. Hmm, ini jg butuh kesiapan mental. Banyak aspek2 yang harus lbh aq cermati lg. Kedisiplinan, tanggungjawab, hubungan antar manusia harus aq tingkatkan. Yah, kadang aq masih tdk disiplin, masih kurang bertanggungjwb dan masih sulit utk berkomunikasi secara verbal dg org2 baru. Tapi dgn momen ini aka aq harus berkembang. SMANGAAAAAAAAAAAATTT…!!
(Soundtrack ku bulan ini adalah Hey Jude nya the beatles yg di remake ma Joe Anderson di film Across the universe)
“and anytime u feel the pain Hey Jude, refrain dont carry the world upon ur shoulder…”

Tausiyah Gus Mus
Jauh……..
Lagi merasa jauh dari Tuhan.
Sangat klise kalo aq menyalahkan kesibukannku yang menyebabkan aq merasa jauh dr Tuhan. Alhamdulillah aq sudah menerima SK CPNS dan ditempatkan di RSUD tempatku sebelumnya. Alhamdulillah banget karena aq memang inginnya di RSUD, tidak di Puskesmas. Menurutku, dengan bekerja di RSUD aq jd bisa lbh mengaktualisasikan diri, dapat banyak ilmu dan teman. Tapi konsekwensinya tanggungjwbku lbh banyak, risiko pekerjaan lbh banyak juga dan hrs lebih bs memahami birokrasi. Yang terakhir ini yang lebih sulit.
Tiga minggu aq menjalani orientasi di RSUD dan berbarengan dengan persiapan pernikahanku. Belum lg job sampinganku yang belum bisa dilepas. Hasilnya adalah aq lari sana-sini menyelesaikan semua tanggungjwbku. Cape, pusing dan hampa. Kenapa hampa? Karena aq kurang meluangkan waktu untuk Tuhanku. Shalat hanya sekedar menghilangkan kewajiban, dzikir kadang ga selesai, puji2an yg biasanya aq lafalkan dlm hati sudah jarang aq dendangkan, Al Quran..?? Sedih sekali aq mengakuinya. Malu. Pertolongan pertamaku adalah dengan mendengarkan Tartil Quran disela2 wkt istirahatku di IGD. Aq jadi teringat puisi favoritku, karya K.H Mustofa Bisri. Puisi cinta yang bermakna sangat dalam. Aq memberanikan diri menuliskannya di sini, mohon ijinnya Gus..
Tanpa bermaksud tidak sopan, ini hanya pemikiranku saja. Jika ada salah persepsi, ini adalah kekuranganku. Mohon maaf sebelumnya. (Ni bakalan kena pasal UU ITE ga ya..? Naudzubillah..)
Perkenankanlah Aku MencintaiMu
(K.H Mustofa Bisri)
Perkenankanlah aku mencintaiMu seperti ini
Tanpa kekecewaan yang berarti
Meski tanpa kepastian yang pasti
Harapan-harapan yang setiap kali dikecewakan kenyataan
Biarlah dibayar oleh harapan-harapan baru yang menjanjikan
Perkenankanlah aku mencintaiMu semampuku
Menyebut-nyebut namaMu dalam kesendirianpun lumayan
Berdiri di depan pintuMu tanpa harapan Kau membukanya pun terasa nyaman
Sekali-kali membayangkan Kau memperhatikanku pun cukup memuaskan
Perkenankanlah aku mencintaiMu
Sebisaku
leave a comment